Umat Katolik Dipanggil untuk Terlibat dan Berpihak Menciptakan Bonum Commune.

Table of Contents



FMKIDIY.org - Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan (PK3) Kevikepan Yogyakarta Barat dan Timur menggelar sosialisasi Arah Dasar (Ardas), Rencana Induk Keuskupan (Rikas), dan Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) yang diikuti 30 perwakilan FMKI dari Kabupaten Sleman, Kulon Progo, Bantul, Gunungkidul serta tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan tersebut berlangsung di Omah Cemara Sego Pecel Blora, Tridadi, Sleman, Minggu (1/2).

Romo Rosarius Sapto Nugroho, Pr, Ketua Komisi Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Kevikepan Yogyakarta Barat, menjelaskan latar belakang historis berdirinya FMKI yang tidak terlepas dari dinamika reformasi 1998.

Pertemuan dipimpin oleh Romo Rosarius Sapto Nugroho, Pr, Ketua Komisi Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Kevikepan Yogyakarta Barat. Dalam sambutannya, Romo Sapto menjelaskan latar belakang historis berdirinya FMKI yang tidak terlepas dari dinamika reformasi 1998. Menurutnya, FMKI lahir sebagai wadah partisipasi umat Katolik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di tengah harapan baru akan demokrasi, keadilan, dan kesejahteraan: bonum commune.

“FMKI sejak awal disepakati sebagai forum, sebagai rumah bersama, tempat umat Katolik berkumpul untuk membaca situasi sosial kemasyarakatan dan merencanakan langkah-langkah konkret yang bisa dilakukan bersama,” ujar Romo Sapto. Ia menegaskan bahwa FMKI bukan organisasi politik maupun partai, melainkan ruang dialog dan aksi sosial yang terbuka.

Romo Sapto juga menguraikan tantangan yang dihadapi FMKI pada periode awal, mulai dari ketiadaan struktur keanggotaan hingga keterbatasan pendanaan, yang sempat menyebabkan kevakuman aktivitas dalam waktu cukup lama. Situasi tersebut mulai berubah sejak 2020, ketika FMKI kembali digerakkan dan menjadi mitra kerja PK3 dalam berbagai program sosial kemasyarakatan, khususnya di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

“Relasi FMKI dan PK3 kemudian berkembang menjadi pola kerja bersama yang saling melengkapi. Hal ini bahkan menjadi salah satu rujukan dalam Pertemuan Nasional Luar Biasa FMKI ke-12 yang menegaskan FMKI sebagai rekan kerja hirarki Gereja dalam bidang sosial kemasyarakatan dan politik,” katanya.

Dalam pertemuan itu, Romo Sapto juga menyampaikan rencana strategis FMKI ke depan, termasuk proses pembentukan badan hukum di tingkat nasional serta penguatan kaderisasi kaum muda. Salah satu program konkret yang sedang disiapkan adalah uji coba modul kaderisasi kaum muda Katolik yang akan dilaksanakan secara bertahap sepanjang tahun ini bekerja sama dengan PK3.

Dewan Kehormatan FMKI Daerah Istimewa Yogyakarta, Matheus Haryanto, menegaskan peran FKMI sebagai mitra hirarki Gereja Katolik dalam menyikapi persoalan sosial-politik kemasyarakatan.

Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) kembali ditegaskan perannya sebagai mitra hirarki Gereja Katolik dalam menyikapi persoalan sosial-politik kemasyarakatan. Penegasan tersebut disampaikan Dewan Kehormatan FMKI Daerah Istimewa Yogyakarta, Matheus Haryanto.

Matheus menjelaskan, FMKI dibutuhkan sebagai mitra karena terdapat isu-isu sosial-politik yang tidak memungkinkan disampaikan langsung oleh hierarki, sementara Gereja tetap berkepentingan terhadap dinamika kehidupan bermasyarakat. “FMKI mengkhususkan diri pada bidang sosial-politik kemasyarakatan. Di situlah FMKI hadir sebagai mitra gereja, menyuarakan nilai-nilai keadilan dan keberpihakan,” ujarnya.

Ia mencontohkan peran konkret FMKI saat tahapan Pemilu dan Pilkada 2024, ketika bersama Romo Sapto dan tim PK3 melakukan kunjungan ke paroki-paroki di DIY untuk membangun kesadaran sosial-politik umat. “Kesadaran sosial-politik umat menjadi penting, terutama menghadapi dinamika kebangsaan ke depan,” kata Matheus. Karena itu, FMKI DIY menetapkan kepengurusan lima tahunan 2025–2030 agar strategi dan program dapat berjalan berkesinambungan hingga Pemilu 2029.

Dewan Kehormatan FMKI DIY, Antonius Adi Prabowo, menambahkan pola kerja FMKI saat ini lebih menekankan keterlibatan kaum awam di paroki-paroki sebagai basis gerakan,

Pandangan serupa disampaikan Dewan Kehormatan FMKI DIY, Antonius Adi Prabowo. Ia menilai FMKI merupakan gerakan yang berperan sebagai penggerak dan pemberi pengaruh di tengah masyarakat, tanpa harus tampil dalam aksi-aksi seremonial. “Salah satu tugas FMKI adalah menjadi pendorong dan pemberi pengaruh melalui jejaring yang kita miliki, bekerja sama dengan PK3 dan unsur gerejawi lainnya,” ujarnya.

Antonius menambahkan, pola kerja FMKI saat ini lebih menekankan keterlibatan kaum awam di paroki-paroki sebagai basis gerakan, tanpa memutus relasi dengan organisasi masyarakat Katolik. Menurutnya, pendekatan ini memungkinkan FMKI bergerak lebih dekat dengan umat di tingkat akar rumput, sekaligus menjaga prinsip subsidiaritas yang memberi ruang otonomi bagi FMKI di kabupaten dan kota.

Romo Rosarius Sapto Nugroho, Pr, menegaskan pentingnya FMKI sebagai “mata dan telinga” Gereja di tengah masyarakat. “Dengan jejaring di paroki dan rayon, gerakan bisa lebih cepat dan berdampak, termasuk mendorong kader-kader awam untuk terlibat dalam pengambilan keputusan publik di tingkat dusun dan kelurahan,” katanya.

Pertemuan dihadiri 30 perwakilan FMKI dari Kabupaten Sleman, Kulon Progo, Bantul, Gunungkidul serta tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Melalui penguatan peran FMKI ini, para peserta forum diharapkan semakin memahami bahwa keterlibatan umat Katolik dalam kehidupan sosial-politik dapat dilakukan secara cerdas, cair, dan berkelanjutan. Dampaknya, nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan bersama diharapkan semakin nyata hadir dalam kehidupan masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menutup pertemuan, Romo Sapto mengajak para pengurus FMKI di tingkat kabupaten dan kota untuk lebih peka terhadap persoalan sosial di lingkungan masing-masing, sekaligus aktif mendampingi kaum muda dan keluarga muda. “Mereka adalah kelompok yang rentan sekaligus strategis. Jika didampingi dengan baik, mereka bisa menjadi kekuatan nyata Gereja dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Pertemuan dihadiri 30 perwakilan FMKI dari Kabupaten Sleman, Kulon Progo, Bantul, Gunungkidul serta tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Para peserta menyambut sosialisasi ini sebagai penguatan arah gerak FMKI di daerah. Melalui pemahaman bersama tentang sejarah, peran, dan tantangan FMKI, kegiatan ini diharapkan berdampak pada meningkatnya keterlibatan umat Katolik dalam upaya mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan bersama di tingkat akar rumput.

 

Posting Komentar