FMKI se-DIY Tegaskan Rumah Bersama, Perkuat Peran Umat dalam Kehidupan Sosial

Table of Contents

FMKI se-DIY memperkuat peran umat sebagai rumah bersama melalui refleksi Romo Mangun dan keterlibatan dalam kehidupan sosial serta kemasyarakatan.


SLEMAN — Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong penguatan peran umat Katolik dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan melalui semangat kebersamaan. Pesan tersebut mengemuka dalam pertemuan FMKI se-DIY bertema “Jika Romo Mangun Masih Ada” yang digelar Sabtu (8/8/2026) di Wisma Pojok, Condongcatur, Depok, Sleman.

Pertemuan tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus pembahasan mengenai posisi dan arah gerakan FMKI setelah pelaksanaan pertemuan nasional. Romo Rosarius Sapto Nugroho, Pr menjelaskan, FMKI di tingkat nasional kini memiliki bentuk hukum perkumpulan untuk memperjelas identitas kelembagaan ketika berinteraksi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah. “Maka semakin diperlukan bahwa FMKI juga mempunyai bentuk tertentu supaya identitasnya menjadi jelas dan dengan demikian lalu didengarkan atau nanti diundang,” ujarnya.

Menurut Romo Sapto, status perkumpulan tersebut berada pada tingkat nasional dan tidak dimaksudkan untuk menempatkan FMKI daerah maupun rayon kabupaten/kota dalam hubungan subordinatif. Masing-masing tetap memiliki ruang untuk bergerak sesuai konteks lokal. “Tetap menjadi rumah bersama bagi semua umat Katolik untuk memikirkan atau menyusun berbagai macam gerakan-gerakan yang diperlukan dalam usaha untuk terlibat dalam kehidupan sosial, politik, kemasyarakatan di negara kita pada tingkatnya masing-masing,” katanya.

Ia menambahkan, koordinasi dapat dilakukan ketika terdapat persoalan yang memiliki cakupan lebih luas dan membutuhkan pembahasan bersama. Untuk persoalan yang bersifat lokal, FMKI di daerah maupun rayon tetap memiliki kewenangan untuk merespons sesuai kondisi masing-masing. Pola tersebut, kata dia, dimaksudkan agar kerja sama antarelemen tetap berjalan tanpa menghilangkan kemandirian setiap wilayah.

Dalam pertemuan itu, peserta juga mendapatkan refleksi mengenai sosok Romo Mangun dan relevansinya bagi kehidupan masyarakat saat ini. Materi tersebut tidak semata membahas perjalanan hidup Romo Mangun, tetapi melihat bagaimana iman, pendidikan, dan pengalaman sejarah membentuk kepedulian serta keberpihakannya terhadap kehidupan masyarakat.

Nilai tersebut kemudian ditempatkan sebagai bagian dari upaya menjaga ruang keterlibatan umat dalam kehidupan sosial. Semangat kebersamaan, kepedulian, pendidikan, serta keterlibatan di tengah masyarakat menjadi pokok yang ditekankan dalam refleksi tersebut.

Pertemuan FMKI DIY diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi dan sinergi antarelemen umat Katolik, baik di tingkat daerah maupun kabupaten/kota. Dengan tetap mempertahankan semangat sebagai rumah bersama, FMKI dapat menjadi ruang dialog untuk merespons persoalan kemasyarakatan sesuai konteks dan kebutuhan masing-masing wilayah.