FMKI Soroti Arah Kebijakan Ekonomi, Dorong Komitmen Bersama Hadapi Ketidakpastian
Pra-Pernas FMKI XIII - Badan Pekerja Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) mengangkat isu arah kebijakan ekonomi nasional dalam Webinar Pra-Pernas ke-3 yang menyoroti berbagai tantangan dan dinamika pembangunan ekonomi Indonesia saat ini.
Kegiatan bertajuk “Problematik Ekonomi dan Masalah Kebijakan” tersebut diselenggarakan secara daring pada Minggu malam, dalam rangkaian menuju Pernas XIII FMKI 2026. Webinar menghadirkan ekonom Prof. Rhenald Kasali, Ph.D dan Dr. A. Prasetyantoko sebagai narasumber, dengan moderator F. Heru Sukrisna serta refleksi peneguhan oleh RD. Albert Antonius Arina. Ketua Badan Pekerja FMKI Yohanes Ari Nurcahyo dalam sambutannya menyampaikan bahwa forum ini menjadi ruang bersama untuk membaca kondisi bangsa dan merumuskan komitmen menghadapi dinamika kebijakan ekonomi.
Dalam pemaparannya, Rhenald Kasali menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius yang perlu disikapi secara kritis. Ia menyatakan, “Kesadaran kita harusnya menyadari bahwa krisis sudah di depan mata atau bahkan sudah terjadi, tetapi sering kali tertutupi oleh dinamika informasi.” Ia juga menyoroti fenomena dominasi sektor gig economy yang dinilai belum mampu memberikan stabilitas pendapatan dan jaminan kesejahteraan jangka panjang bagi masyarakat.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penciptaan lapangan kerja berkualitas dan penguatan solidaritas sosial. “Penciptaan lapangan kerja tidak cukup hanya dari atas, tetapi perlu gerakan bersama, termasuk dari generasi muda,” ujarnya.
Sementara itu, A. Prasetyantoko menguraikan adanya paradoks dalam kondisi ekonomi Indonesia, termasuk ketidaksesuaian antara data pertumbuhan ekonomi dengan realitas di lapangan. Ia mencontohkan capaian pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen yang dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil. “Ada diskoneksi antara data dan realitas, misalnya ketika pertumbuhan tinggi tetapi nilai tukar melemah,” kata dia.
Ia juga menyoroti peran besar pemerintah dalam menopang pertumbuhan ekonomi melalui belanja fiskal, yang menurutnya berpotensi menimbulkan tekanan terhadap defisit dan utang negara. “Pertanyaannya, apakah pemerintah mampu mempertahankan pola belanja tersebut di kuartal berikutnya tanpa memperlebar defisit,” ujarnya.
Dalam refleksi peneguhan, Albert Antonius Arina mengajak peserta melihat persoalan ekonomi tidak hanya dari sisi angka, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Ia menilai kondisi saat ini menunjukkan berbagai ketimpangan yang perlu menjadi perhatian bersama. “Kebijakan ekonomi harus memastikan keadilan dan keberpihakan kepada masyarakat kecil, bukan hanya mengejar pertumbuhan,” katanya.
Ia juga mengaitkan refleksi tersebut dengan momentum perayaan Pentakosta, yang menurutnya menjadi panggilan bagi umat untuk berani bersikap dan berkontribusi dalam kehidupan berbangsa. “Kita tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi perlu terlibat aktif membawa perubahan,” ujarnya.
Webinar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menuju Pernas XIII FMKI yang bertujuan menjaring gagasan dan memperkuat arah gerakan organisasi. Melalui diskusi tersebut, peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai kondisi ekonomi nasional serta terdorong untuk berperan aktif dalam membangun kehidupan sosial yang lebih adil dan berkelanjutan.
