Ditutup dengan Ajakan Meneladani Amos, Youth Empowerment Bootcamp Siapkan Orang Muda Peduli Sesama

Table of Contents


FMKIDIY.ORG
-  Komisi Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan (PK3) Kevikepan Yogyakarta Barat dan Kevikepan Yogyakarta Timur menutup tahap kedua program pendampingan berjenjang Youth Empowerment Bootcamp: Membangun Generasi Tangguh bertema "Aku Muda" dengan ajakan kepada peserta untuk menjadi pribadi yang peduli terhadap sesama dan berani mengambil peran nyata di tengah masyarakat. Pesan tersebut disampaikan dalam Misa Penutupan yang menjadi penanda berakhirnya rangkaian retret dan live in pada akhir Juni 2026.

Misa penutupan diikuti 13 peserta kaderisasi dan dipimpin oleh Ketua Komisi PK3 Kevikepan Yogyakarta Barat, Romo Rosarius Sapto Nugroho, Pr. Dalam homilinya, Romo Sapto mengajak para peserta merefleksikan panggilan Nabi Amos sebagai teladan orang muda yang berani hadir bagi sesama. Menurutnya, melalui proses pembinaan tersebut, peserta diharapkan semakin mengenal dirinya sekaligus memiliki kepedulian sosial sebagai bagian dari panggilan hidup beriman.

Mengangkat tema refleksi "Menjadi Amos bagi Sesama", Romo Sapto menegaskan bahwa Allah tidak pernah membiarkan umat-Nya berjalan menuju kehancuran tanpa memberikan kesempatan untuk kembali. Ia mencontohkan bagaimana Allah mengutus Nabi Amos, yang berasal dari luar wilayah Kerajaan Israel, untuk mengingatkan bangsa Israel yang telah hidup dalam ketidakadilan dan menjauh dari Tuhan.

Suasana kebersamaan mewarnai kegiatan live in di Panti Asuhan Ganjuran. Melalui pengalaman hidup bersama, para peserta Youth Empowerment Bootcamp belajar berbagi, melayani, serta menumbuhkan empati dan kepedulian sebagai wujud nyata kasih kepada sesama.

"Kadang muncul sikap, 'Biarkan saja. Tidak perlu diingatkan. Kalau akhirnya hancur, ya biarlah hancur.' Namun, Allah tidak pernah bersikap demikian. Bangsa Israel tetap berharga di mata Allah. Justru ketika mereka berada dalam keadaan paling rusak, Allah datang mendekati mereka dan tidak menyerah atas kehidupan mereka," kata Romo Sapto.

Ia menjelaskan bahwa kasih Allah menjadi dasar setiap orang untuk menghargai dirinya sendiri sekaligus menghargai orang lain. Karena itu, orang muda diajak tidak bersikap acuh ketika melihat sesama mengalami kesulitan, melakukan kesalahan, atau semakin menjauh dari Tuhan.

"Pertanyaannya sekarang adalah, maukah kita menjadi seperti Amos? Maukah kita berjalan bersama Tuhan dan pergi ke tempat-tempat yang Tuhan kehendaki? Maukah kita peduli kepada orang-orang di sekitar kita, bukan hanya memikirkan diri sendiri?" ujarnya.

Menurut Romo Sapto, menjadi murid Kristus berarti berani melangkah dan mengambil tindakan nyata. Ia mengingatkan bahwa kesempatan untuk menghadirkan kasih Tuhan hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui tindakan sederhana yang membangun persaudaraan, memperkuat komunitas, serta memberi perhatian kepada mereka yang membutuhkan.

Sebanyak 13 peserta menuntaskan tahap kedua Youth Empowerment Bootcamp: Membangun Generasi Tangguh. Melalui retret dan live in, mereka dibekali untuk bertumbuh menjadi orang muda yang berkarakter, peduli terhadap sesama, serta siap menjadi "Amos" bagi lingkungan sekitar dengan menghadirkan kasih Tuhan dalam tindakan nyata.

Program Youth Empowerment Bootcamp merupakan bagian dari pendampingan berjenjang yang diselenggarakan Komisi PK3 Kevikepan Yogyakarta Barat dan Kevikepan Yogyakarta Timur. Melalui rangkaian retret dan kegiatan live in, peserta memperoleh ruang untuk mengembangkan karakter, empati, komitmen, serta kesiapan mengambil peran dalam kehidupan menggereja maupun bermasyarakat.

Dalam penjelasan latar belakang bacaan Kitab Suci yang menjadi dasar refleksi, Romo Sapto mengisahkan bahwa Nabi Amos diutus Allah ke Kerajaan Israel pada masa bangsa itu mengalami kemakmuran, tetapi hidup dalam ketidakadilan dan penyembahan berhala. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa panggilan untuk menghadirkan kepedulian dan pertobatan tetap relevan bagi orang muda pada masa kini.

Melalui proses pembinaan yang telah dijalani, para peserta diharapkan tidak hanya memahami nilai-nilai iman secara pribadi, tetapi juga mampu mewujudkannya dalam tindakan nyata di lingkungan keluarga, Gereja, maupun masyarakat. Semangat menjadi "Amos bagi sesama" diharapkan terus tumbuh sebagai bekal bagi para kader muda untuk menjadi pribadi yang peka, bertanggung jawab, dan siap menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.