Menakar Peran Sosial di Tengah Perubahan, FMKI Gelar Webinar Prapernas XIII

Table of Contents

 


Pra-Pernas FMKI XIII— Badan Pekerja Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) menggelar webinar prapernas bertajuk refleksi 118 tahun Kebangkitan Nasional yang menyoroti persoalan budaya dan perubahan sosial, Minggu (17/5/2026). Forum ini menjadi ruang konsolidasi gagasan untuk menakar kontribusi FMKI dalam menggerakkan prinsip keadilan sosial di tengah masyarakat menjelang Pernas XIII FMKI 2026.

Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom tersebut menghadirkan narasumber Prof. Melani Budianta, Ph.D, Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, dan Prof. Francisia SSE Seda, Ph.D, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Webinar dipandu oleh Dominique Nicky Fahrizal dari Badan Pekerja FMKI, serta diikuti oleh rohaniwan, akademisi, dan umat Katolik dari berbagai daerah.

Ketua Badan Pekerja FMKI, Yohanes Ari Nurcahyo, dalam pengantarnya menyampaikan bahwa webinar ini merupakan bagian dari rangkaian prapernas yang bertujuan menghimpun gagasan strategis bagi arah gerak organisasi. “Webinar ini menjadi ruang untuk menggali pemikiran sebagai bekal menuju Pernas XIII FMKI, sekaligus menguatkan peran FMKI sebagai rumah bersama umat Katolik dalam bidang sosial kemasyarakatan,” ujarnya.

Ia menambahkan, FMKI yang telah berbadan hukum sebagai perkumpulan kini diarahkan menjadi mitra strategis hierarki Gereja dalam karya kerasulan sosial. Menurutnya, sinergi antara awam dan klerus menjadi komitmen utama dalam membangun gerakan yang responsif terhadap dinamika masyarakat.

Dalam paparannya, Prof. Melani Budianta menekankan bahwa tantangan budaya di era disrupsi tidak dapat dilepaskan dari persoalan identitas dan arus globalisasi informasi. Ia menyebut kebudayaan tidak sekadar produk, melainkan cara manusia memaknai hidup yang mencakup nilai, norma, hingga praktik sosial. “Jika generasi muda tidak memiliki akar identitas yang kuat, mereka mudah hanyut dalam arus global dan kehilangan pijakan budaya,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya literasi budaya dan media di tengah maraknya disinformasi. Menurutnya, penguatan nilai lokal, kesadaran identitas, serta pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari menjadi kunci membangun ketahanan budaya. “Budaya harus dihidupi, bukan sekadar dipelajari sebagai konsep,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Francisia SSE Seda menyoroti persoalan kemiskinan dan eksklusi sosial sebagai tantangan utama yang masih dihadapi masyarakat Indonesia. Ia menegaskan pentingnya keberpihakan Gereja terhadap kelompok marginal sesuai ajaran sosial Gereja. “Gereja perlu memiliki posisi yang jelas, yaitu berpihak pada mereka yang miskin dan tersingkir,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kemiskinan tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga terkait dengan keterbatasan akses terhadap sumber daya dan partisipasi sosial. Oleh karena itu, menurutnya, diperlukan kebijakan sosial yang inklusif serta sinergi antara negara, pasar, dan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan sosial secara menyeluruh.

Pada sesi peneguhan, RD. Thomas D. Labina menegaskan bahwa isu sosial dan budaya harus dipahami sebagai bagian dari panggilan iman. Ia menyoroti pentingnya akal budi dan budi pekerti dalam membangun kehidupan bersama yang adil dan bermartabat. “Mengikuti Kristus berarti menghadirkan nilai keadilan, solidaritas, dan penghormatan terhadap martabat manusia dalam kehidupan sosial,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perubahan sosial yang cepat, termasuk dampak globalisasi dan postmodernisme, menuntut umat untuk tetap berakar pada nilai-nilai moral dan kebersamaan. Menurutnya, FMKI memiliki peran strategis dalam merawat ruang publik agar tetap berlandaskan keadilan dan kemanusiaan.

Melalui forum ini, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga dorongan untuk terlibat aktif dalam merespons persoalan sosial di lingkungan masing-masing. Diskusi yang berlangsung menunjukkan antusiasme peserta dalam menggali peran konkret umat Katolik dalam menghadapi perubahan sosial yang dinamis.

Sebagai rangkaian menuju Pernas XIII, webinar ini diharapkan memperkuat jejaring dan kesadaran kolektif umat untuk berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat. Bagi peserta, forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen untuk menghadirkan nilai keadilan sosial dalam praktik sehari-hari, terutama bagi kelompok yang lemah dan terpinggirkan.